Forecasting Love And Weather Ep 2 Part 2

Drama Korea – Sinopsis Forecasting Love and Weather Episode 2 Part 2, Cara pintas untuk memperoleh spoilers lengkapnya ada di tulisan yang ini. Cek juga episode sebelumnya disini.

Foto : JTBC

Rapat pagi itu.

Ha kyung, Ini gambar udara hirau taacuh maritim okhostk dan sakhalin yang berembus ke arah timur. Menurut pengamatan dini hari tadi sudah ditentukan bahwa hawa hirau taacuh diutara diperkuat oleh maritim okhostk yang membeku jawaban gelombang hirau taacuh yang menyerang siberia animo hirau taacuh kemudian dan tak mencair.”

“Apa? Makara itu bongkahan es?”

“Ya benar.”

“Ternyata bukan kabut maritim ya? Makara esnya mengapung di sana terus.”

Hakyung menoleh kebelakang. Si woo tersenyum padanya.

“Pantas saja. Suhu air di sana berapa?” tanya pak go.

“Semenanjung Kamchatka lima hingga delapan derajat celcius. Dan sakhalin tiga hingga tuju derajat celcius.”

“Sungguj hebat jadi apa keputusanmu?”

“Pertama kita catat ini selaku fenomena suhu rendah pertama diawal mei. Dari prakiraan suhu Taebaek akan turun hingga o,5 derajat celcius dan Bonghwa provinsi Gyeongsang utara hingga 1,2 derajat celcius.”

Pak Go memujinya andal lantas mengajaka membahas kapan kira kira keadaan itu berakhir.

Foto : JTBC

Si woo niatnya mengajak Ha kyung makan siang.  Ha kyung ingin tahu bagaiman beliau sanggup mencium amis es di maritim okhostkb Si woo tertawa. Sekuat apapun penciuman insan tak akan sanggup menciumnya. Si woo tahu sehabis menyaksikan data. Dia bermalam di kantor nampaknya kemudian beliau menyaksikan Ha kyung datang. Kau lebih polos dari dugaanku. Kata Si woo.

Foto : JTBC
Foto : JTBC

Taekyung tetiba mengontak Ha kyung. Ha kyung memperoleh surat kontrak di mana Ki jun minta setengah bagiannya. Ibunya benar benar murka dan ingin ke BMKG tetapi dicegah Taekyung lantaran takut mempermalukannya.

Foto : JTBC
Foto : JTBC
Foto : JTBC

Ha kyung pribadi memerintahkan Ki jun mengikutinya. Ha kyung menamparnya.

“Ini kantor.” Kata Ki jun

“Kau segan dilihat orang. Kalau begitu mestinya kau jangan bertingkah.”

“Tingkah apa?”

“Kau mengirim surat kontrak untukku. Bisa bisanya kau kirim itu? Kau lupa perlakuanmu terhdapku?”

“Hei itu dua masalah yang berbeda.”

“Kau tak merasa bersalah kepadaku?”

“Aku sudah minta maaf kan? Berapa kali mesti minta maaf.”

“Sekali! Kau cuma meminta maaf sekali kepadaku.”

“Intinya audah minta maaf kan?”

“Hei kita berpacaran selama sepuluh tahun kan?. 10 tahun. Kaulah yang menghasilkan waktu itu menjadi sampah. Baiklah menyerupai katamu anggap kau tak berdaya soal perselingkuhan tetapi setidaknya kau mesti ikhlas merasa bersalah kepadaku .saat putus Kau yang memberi apartemen selaku kompensasi bukan saya yang minta. Kenapa lantaran kau ingin menuntaskan suasana itu ya kan? Setidaknya saya merasa mungkin saya juga bersalah. Aku terlampau ketus kepadamu lantaran sibuk dan sensitif juga tak sadar betapa kesepiannya dirimu lantaran saya begitu bodoh  mungkin saya juga salah tetapi….”

“Kau tahu tetapi bersikap begini?”

“Apa?”

“Baiklah kita memang berpacaran selama 10 tahun kau mau kubeberkan betapa sengsara dan penatnya saya selama 10 tahun? Kau rendahkan saya lantaran jabatanmu lebih tinggi. Kau sering bilang, kijun ambilajn air,buatkan kopi,belikan masakan manis. Kau menjadikanku pesuruhmu. Saat melekat kertas di dinding juga padahal kita sanggup sewa tukang tetapi kau siksa saya di hari libur demi suasana pengantin baru. Lau apa yang terjadi? Kau pergi lantaran suasana darurat dan kupasang kertas itu sendiri. Hei kau tahu betapa lelahnya saya hari itu?”

“Lantas kenapa tak bilang?

“Kalau bilang kau niscaya bersikap hirau taacuh lagi. Kini pun saya maaih gemetar tiap membayangkan diriku yang kelabakan berupaya menghiburmu di saat marah. Kau tahu itu.”

“Sesungguhnya apa arti 10 tahun yang kita lalui bersama?”

“Lupakan. Jawab saja berapa bagianku untuk apartemen itu. Kita pacaran 10 tahun tak adil jikalau kau telan semuanya.bukan begitu”

“Rumah itu sudah kujual”

“Sudah kau jual. Berapa”

“Uang paras sudah kuterima. Pembayaran kredit selesai bulan ini”

“Lantas bagianku berapa?”

“Kau cuma menyetor lima juta dari 20 juta won simpanan perumahan.sisanya aku. Uang paras cicilan dan peran serta pun semua dari tabunganku kan”

“Lantas bagaimana?’

“Artinya bagianmu dari rumah itu cuma 7 persen. Nanti kutransfer uangnya dikurangi harga tv yang kau sebut beli di korea padahal beli daring dari luar negeri.”

“Ha kyung…”

“Setengah setengah. Jangan konyol. Dasar tak tahu malu.”

“Lagipula kau akan pergi ke swiss kan,berarti kau tak butuh rumah itu kan?”

“Kata siapa saya akan pergi kw swiss.”

“Semua bilang begitu. Kau tidak akan pergi.”

“Aku gres naik pangkat. Buat apa saya pergi.

“Hei kau tak segan berjumpa saya terus?”

“Kau merada segan bermakna kau saja yang pergi yang pergi ke jenewa swiss bajingan tengik. Kelak jangan menyapaku. Paham.”

Semua orang yang menyaksikan memuji Ha kyung. Si woo tersenyum melihatnya.

Foto : JTBC

Ha kyung memberi tahu Pak Go kalau beliau takkan pergi ke swiss. Dan akan berupaya memimpin ti dua di divisi utama. Pak go ngajak makan makan tetapi ha kyung akan mengokuti hukum pulang sempurna waktu.

Foto : JTBC
Foto : JTBC
Foto : JTBC

Si Woo dan Ha kyung akibatnya minum bareng di kedai yang kemarin. Padahal umumnya Ha kyung jarang minum dengan orang lain. Si woo nebak relevansinya dengam Ki jun berawal dari Miras.

Ternyata mereka satu kampus dan berpacara sejak itu. Lalu sama sama diterima di BMKG. Para senior mereka bilang berpacaran satu kantor itu menyibukkan jadi mereka setuju merahasiakannya tetapi Ha kyung tak sengaja mengumumkannya di saat penerimaan pegawai gres lantaran minum terlampau banyak dan bilang han ki jun miliknya.

Si woo kemudian menceritakan di saat Yu jin melempar buket bunga di hari pernikahannya Si woo tiba tiba tiba dan merampas buket itu yang mau ditangkap orang lain. Lalu Si woo kabur sambil senyum.

“Dia sudah merebut pacar orang itu bukan apa apa.”

“Kau benar benar gila.”

“Aku benar benar menggemari Yu jin. Meski begitu sehabis berulah begitu saya merasa lega. Omong omong apa kau tahu bahwasanya Yu jin senantiasa merasa sial. Pilihannya senantiasa gagal. Kau tak tahu sanggup jadi itu juga yang menghasilkan Yu jin memutuskan Pak Han Ki jun.”

“Itu masuk akal. Ki jun sungguh manja. Sekalinya sakit beliau senantiasa mengeluh habis habisan. Yu jin niscaya kewalahan.”

“Aku besar lengan berkuasa menahan sakit.”

“Dia juga senantiasa salah paham. Tes sira pun gres lulus sehabis lima kali.”

“Aku lulus sekali tes.”

“Sungguh?”

“Bersulang.”

“Dia begitu menimbang-nimbang tampilan hingga senantiasa telat di saat bertemu. Tak sanggup menangkap serangga tak sanggup makan pedas dan benar benar picik.”

“Tadi kudengar di saat beliau minta bagiannya kan. Kenapa kau bertujuan menikah dengan orang menyerupai itu?”

“Aku…entahlah saya tak membencinya semua itu. Dia taka terlihat menjengkelkan di saat merengek menyerupai anak kecil di saat sakit. Dan saya bahagia menyaksikan kepicikannya lantaran terlihat bijak di mataku. Terlebih lagi saya oikir beliau merasa amat besar hati kepadaku. Aku yang tidak tahu apa apa tetapi syukurlah saya tahu sekarang.”

“Soal apa?”

“Angin”

“Apa?”

“Katamu besar atau kecil angin niscaya meninggalkan jejak. Setelah sadar bahwa saya yang disakiti saya tahu bagaimana menghadapi Ki jun. Ini berkatmu. Terima kasih.”

“Sama sama. Omong omong hari ini panas ya.”

“Hari ini agak panas ya.”

Tahu mereka kepanasan pemilik kedai menyalakan ACnya.

“Aku kapok pacaran sekantor lagi.”

“Ayolah kau tidak sanggup menebak masa depan.”

“Tidak. Aku tidak akan berpacaran dengan rekan sekantor lagi sama sekali.”

“Mustahil.”

Foto : JTBC

Pak go Dan Pak Um main catur. pak um mengakui bukan beliau yang memperoleh bongkahan es itu tetapi Jin ha kyung dan lee si woo. Baginya masih terlihat menyerupai kabut laut. Pak Go menyebut Pak Um tsundere.

Pak um menyaksikan Pak go terlihat senang. Itu lantaran Ha kyung tak jadi pergi sepertinya. Dia akan berupaya keras memimpin tim dua divisi utama. Pak Um mesti menanti usang untuk jadi ketua tim. Pak Um ke sana bukan lantaran menghendaki jabatan itu.

Foto : JTBC
Foto : JTBC

Ha Kyung terbangun dan terkejut Si woo disampingnya. Ha kyung aib sekali. Ha kyung minta maaf sudah memicu hal itu terjadi. Si woo ngingetin itu menurut janji mereka berdua. Selain itu beliau senang.

Kilas balik sehabis minum minum keduanya mabuk.

“Pak waktu hujan kau keren” kata Ha kyung.

“Begitu. Berhubung saya keren apa boleh saya menciummu?”

“Apa?”

Si woo kemudian mencium Ha kyung yang membalasnya dan mereka  berakhir di sana.

Ha kyung jadi cemas.

“Benar kita sudah cukup umur ya.”

“Benar.”

“Soal kemarin itu suatu insiden. Kejadian tak terduga. Sejenis benacana alam yang sebaiknya tak terjadi. Anggap saja ini semacam petir yang terbentuk jawaban dua anutan angin yang tak semestinya bertemu.”

“Lantas?”

“Jadi maksudku kita lupakan saja dengan apik layaknya orang irang dewasa. Lagipula pekan depan kau akan kembali ke BMKG daerah ibukota. Sementara saya akan konsentrasi melakukan pekerjaan dan memimpin tim dua divisi utama. Aku tidak sempat menimbang-nimbang hal lain. Apalagi berpacaran dengan rekan sekantor. Kau tahu sendiri. Paham maksudku kan?”

Foto : JTBC

Si woo paham maksudnya. Meski begitu beliau tidak akan kembali ke kantor lama. Sebenarnya beliau dimutasi secara resmi ke tim dua Divisi Utama BMKG sentra mulai pekan depan. Ke depannya mereka satu Tim. Ha kyung terkejut.

“Mohon kerjasamamu dengan apik layaknya orang dewasa.” Kata Si woo kemudian melenggang dengan santai meninggalkan Ha kyung yang bengong. “ Aku sanggup gila” kata Ha kyung.

Red Shoes Ep 13 Part 2

Drama Korea – Sinopsis Red Shoes Episode 13 Part 2, Cara pintas untuk mendapatkan spoilers lengkapnya ada di tulisan yang ini. Cara lain un...